Pak Budi Dan Malaikat

Alkisah, diceritakan ada seorang laki-laki yang sudah berumur, Pak Budi namanya, sedang diantar oleh Malaikat Penjaga Surga.

Pak Budi bertanya, ”Maaf, saya mau di antar kemana sih?”

Malaikat berkata dengan senyuman yang indah, “Wahai Pak Budi, Anda akan saya antar ke Surga, Pak. Dan Selamat anda mendapatkan Surga yang terbaik disisi-Nya”

”Eit, Tunggu dulu,...! Jujur, saya bahagia mendengar kabar dari anda. Tapi mungkin anda salah antar nih, perasaan amal saya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Apa saya pantas masuk surga yang terbaik?” tanya Pak Budi.

”Wah, bapak ini lucu, masak Tuhan kok salah tunjuk? dan saya kan Malaikat, ga mungkinlah saya salah antar.” jawab Malaikat ringan

”O ya, benar-benar. Tapi sebelum sampai di Surga, saya mau bertanya kepada anda. Amal apa yang pernah saya lakukan sehingga saya masuk surga itu?”

”Menurut data dari rekan Malaikat Pencatat Amal Anda, selain ibadah wajib yang anda lakukan setiap hari dengan ikhlas. Ada satu amalan yang memiliki point yang banyak sekali.”

”Wah-wah, apa itu?”

”Sedekah harta!” jawab Malaikat dengan tegas.

”He he he.”

”Kenapa anda ketawa?”

”Gini, maaf ya, saya yakin kali ini anda salah antar. Mungkin ada Pak Budi lainnya. Kamu tau ndak, bahwa saya ini orang miskin, ga punya harta. Untuk makan aja sulit. Harta dari mana untuk sedekah?... dari logika saja ga nyambung. Iya tho?”

”Mungkin anda telah lupa, suatu ketika Pak Budi pernah bertemu seorang yang sedang kelaparan di jalan. Dan Pak Budi membantunya dengan memberikan uang untuk makan dan transport pulang kerumahnya. Benar?”

”O ya, saya ingat itu, perasaan cuma sama dia saja saya sedekah, karena dia jauh lebih membutuhkan uang itu.”

”Tahukah, siapa orang itu?. Dia adalah seorang yang kaya raya, pemimpin ratusan perusahaan di dunia. Kebetulan dia dirampok ketika dijalan, sehingga mobil dan hartanya hilang semua. dan Pak Budi menolongnya. Sejak saat itu, dia jadi terinspirasi untuk menyedekahkan 80 % dari penghasilannya untuk orang yang membutuhkan. Tidak cuma itu, dia memotivasi kepada puluhan ribu karyawannya untuk bersedekah. Dan tanpa sadar, berbondong-bondong orang kaya ikut bersedekah karena terinpirasi oleh motivasinya.”

”Lalu apa hubungannya dengan saya. Kan beliau yang bersedekah banyak?”

”Tuhan Maha Adil, segala amalan orang tersebut, adalah karena terinpirasi akan keikhlasan Bapak dalam bersedekah. Maka, amalan orang tersebut, juga amalan bapak. Jadi silahkan, anda akan saya antar ke Surga, dan akan saya ketemukan dengan orang yang pernah bapak tolong tersebut” ajak Malaikat.

Seketika itu juga, mata Pak Budi deras melelehkan air mata, dan berterimakasih kepada Tuhannya, dia merasakan keagungan-Nya dan keadilan-Nya.

#  #  #  #  #  #  #

Memang cerita di atas cuma sekedar cerita karangan saja. Tapi, ada suatu kebenaran dari cerita tersebut, yakni salah satu amalan yang tidak akan terputus, walau kita sudah meninggal, yakni, sebuah ilmu yang bermanfaat.


Keajaiban Meninggal Dalam Keadaan Husnul Khotimah

Kemudian mereka mengambil jenazahnya untuk dimandikan. Dia dimandikan oleh tukang memandikan jenazah di rumah sakit saudara Dhiya’ Uddin.
Saudaraku ini juga merasa aneh, sebagaimana yang dia ceritakan setelah shalat magrib hari itu juga.
Pertama, Dhiya’ melihat keningnya meneteskan keringat. Sesuai dengan sabda Nabi SAW,
“Sesungguhnya seorang beriman itu meninggal dengan keringat di kening.” (HR. Ahmad)
Kedua, kedua tangannya lentur dan begitu juga sendi-sendinya, sekanan-akan dia belum meninggal dan tubuhnya masih hangat.
Aku belum pernah menyaksikan kejadian seperti itu pada orang mati yang aku mandikan. Biasanya orang meninggal itu tubuhnya dingin, kaku dan kering.
Ketiga, telapak tangan kanannya seperti pada posisi tasyahud, telunjuknya mengisyaratkan tauhid dan syahadah, sedang empat jari sisanya itu tergenggam. Subhanallah.
Betapa indah akhir hidupnya. Kita mohon kepada Allah semoga kita bisa husnul khatimah,
Dhiya’ bertanya kepada orang tuanya tentang amal puteranya itu. “Apa yang dilakukan selama hidupnya hingga dia bisa merasakan husnul khatimah seperti ini?”
Ayahnya menjawab,
“Dia tidak pernah keluar malam di jalanan atau hanya sekedar duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang haram, bahkan dia tidak pernah terlelap tidur dan meneguk minuman keras.
Dia biasanya bangun malam melaksanakan shalat sunah dan membangunkan anggota keluarga di rumah untuk melaksanakan sholat berjamaah. Dia selalu menjaga hafalan Al-Qur’an dan dia juga termasuk siswa yang berprestasi dalam studi di jenjang menengah atas.”
Maha benar Allah,
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’ Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang akamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat 41:30-32)


Pemuda Yang Meninggal Husnul Khotimah

Kisah ini diceritakan oleh seorang dokter sebagai berikut:
Aku mendapat telpon dari rumah sakit. Mereka memberitahukan keadaan darurat di dalam mobil ambulan.
Saat aku tiba di rumah sakit, dimana terdapat seorang pemuda yang sudah meninggal. Akan tetapi apa keistimewaan kematiannya?
Setiap hari ada ribuan, bahkan jutaan orang meninggal, namun apa dan bagaimana mereka meninggal dan seperti apa akhir hidup mereka?
Pemuda ini terkena peluru nyasar. Kedua orang tuanya segera membawa ke rumah sakit militer Riyadh.
Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada kedua orang tuanya hendak berbicara. Tapi, apa yang dia katakan? Apakah dia mengerang dan menangis? Atau berkata, “Segera bawa aku ke rumah sakit?” Atau dia marah dan mengadu? Atau apa?
Menurut cerita kedua orang tuanya, yang dia katakan adalah, “Jangan khawatir aku pasti mati. Tenangkan hati kalian. Karena aku telah mencium bau surga.”
Bukan sekali ini saja, bahkan dia mengulangi kalimat yang penuh keimanan ini di hadapan para dokter di dalam ambulance.
Ketika mereka berulang kali mencoba menolongnya. dia malah berkata, “Saudara, aku sudah mati. Kalian jangan melelahkan diri. Aku sudah mencium bau surga.”

Kemudian dia meminta kedua orang tuanya mendekat. Lalu dia mencium kening keduanya, meminta maaf dan mengirimkan salam buat saudara-saudaranya. Setelah itu mengucapkan dua kalimat syahadat,
“Asyahadu an la ilaha illallah, wa asyahadu anna Muhammadan Rasulullah.” (Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersakasi Muhammad adalah utusan Allah). Kemudian dia menyerahkan ruhnya kepada penciptanya, Allah SWT.
Allahu Akbar!
Apa komentarku, dan, apa kataku? Aku merasa kata-kataku tertahan di mulut dan pena bergetar di tanganku. Aku hanya mampu mengulang-ulang firman Allah,
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akherat.” (QS. Ibrahim 14:27)


Hidayah Datang Di Waktu Yang Tepat

Hari Jumat yang lalu, saat udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi harapan untuk hidup. Kemudian saya mengambil seutas tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku.
Saya ikatkan tali tersebut di kayu atap, dan saya berdiri di kursi, lalu saya kalungkan ujung tali yang satunya ke leher, saya ingin bunuh diri karena kesedihanku.
Tapi, tiba-tiba terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tidak menjawab, “paling sebentar lagi pergi” batinku.
Tapi ternyata bel berdering lagi, ditambah ketukan pintu yang makin kuat. Saya ragu, “Siapa kira-kira yang datang ini, setahuku tak ada satupun orang yang mungkin memiliki keperluan atau perhatian terhadapku.”
Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher, dan saya turun untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
Saat aku membuka pintu, kulihat seorang bocah yang ceria wajahnya, dengan senyuman laksana malaikat yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dia mengucapkan kata-kata yang menyentuh hatiku, “saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Kemudian anak itu menyodorkan buku kepadaku yang berjudul, “Jalan menuju surga.”
Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi buku itu. Setelah membacanya, akhirnya aku menepikan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.
Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya.
Akupun akhirnya mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat
Sehingga aku terbebas dari kekalnya api neraka, dan mudah-mudahan menjadi jalan selamat dari kesengsaraan menuju surga yang abadi.
Meneteslah air mata para jamaah yang hadir di masjid, gemuruh takbir, Allahu Akbar menggema di ruangan.
Kemudian sang Imam turun dari mimbarnya, menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnya pun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.


Mengetuk Pintu Hidayah

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Jalanan sangat sepi dan ia tidak melihat lagi orang di jalanan.
Lalu ia mendatangi sebuah rumah untuk membagikan buku itu. Ia pencet tombol bel rumah, tapi tak ada yang menjawab. Ia pencet lagi, dan tak ada yang keluar.
Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yang menghalanginya. Untuk beberapa saat ia kembali menekan bel, dan ia ketuk pintu dengan keras.
Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang melihatkan kesedihan yang dalam berkata, “Apa yang bisa saya bantu wahai anakku?”
Dengan wajah yang ceria, dan senyuman yang bersahabat si anak berkata,
“Sayyidati (panggilan penghormatan untuk seorang wanita), mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa buku dakwah untuk Anda yang mengabarkan kepada Anda bagaimana mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.”
Anak itu menyerahkan bukunya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih Nak”
Satu pekan berlalu
Seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Setelah ceramah ia mempersilakan jama’ah untuk bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu.
Terdengar dari barisan belakang, seorang wanita tua berkata,
“Tak ada di antara hadirin ini yang mengenalku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jumat yang lalu saya merasa belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berpikir untuk menjadi seperti ini. Sekitar sebulan suamiku meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini.


Hidayah Cinta Dari Allah

Sudah menjadi kebiasaan setiap selesai sholat jum’at tiap pekannya, seorang Imam (masjid) dan anaknya yang berumur 11 tahun membagikan brosur atau pun buku-buku islam di jalan-jalan dan keramaian.
Diantaranya adalah sebuah buku dakwah yang berjudul “at-thoriq ilal jannah” (jalan menuju surga).

Tapi kali ini, suasana sangat dingin ditambah rintik-rintik air hujan yang membuat manusia benar-benar malas untuk keluar rumah.
Namun si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan untuk mencegah dingin, lalu ia berkata,
“Saya sudah siap, Abi!”
“Siap untuk apa nak?”
“Abi, bukankah ini waktunya kita membagikan buku ‘jalan menuju surga’?”
“Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”
“Tapi Abi, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka meski suasana sangat dingin.”
“Abi tidak tahan dengan suasana dingin di luar.”
“Abi, jika diijinkan, saya ingin menyebarkan buku ini.”
Sang ayah diam sejenak lalu berkata
“Baiklah, tapi bawa beberapa buku saja, jangan banyak-banyak.”

Anak itu akhirnya keluar ke jalanan kota untuk membagikan buku kepada orang yang dijumpainya, juga dari pintu ke pintu.