Mengetuk Pintu Hidayah

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Jalanan sangat sepi dan ia tidak melihat lagi orang di jalanan.
Lalu ia mendatangi sebuah rumah untuk membagikan buku itu. Ia pencet tombol bel rumah, tapi tak ada yang menjawab. Ia pencet lagi, dan tak ada yang keluar.
Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yang menghalanginya. Untuk beberapa saat ia kembali menekan bel, dan ia ketuk pintu dengan keras.
Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang melihatkan kesedihan yang dalam berkata, “Apa yang bisa saya bantu wahai anakku?”
Dengan wajah yang ceria, dan senyuman yang bersahabat si anak berkata,
“Sayyidati (panggilan penghormatan untuk seorang wanita), mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa buku dakwah untuk Anda yang mengabarkan kepada Anda bagaimana mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.”
Anak itu menyerahkan bukunya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih Nak”
Satu pekan berlalu
Seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Setelah ceramah ia mempersilakan jama’ah untuk bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu.
Terdengar dari barisan belakang, seorang wanita tua berkata,
“Tak ada di antara hadirin ini yang mengenalku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jumat yang lalu saya merasa belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berpikir untuk menjadi seperti ini. Sekitar sebulan suamiku meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini.